Referensi membantu menjelaskan produk yang diinginkan. Namun ketika terlalu banyak produk dijadikan acuan sekaligus, arah pengembangan justru dapat kehilangan fokus.
Membawa produk referensi ketika berkonsultasi dengan perusahaan maklon merupakan langkah yang sangat membantu. Klien dapat menunjukkan tekstur yang disukai, aroma yang dianggap menarik, jenis kemasan yang nyaman, hingga pengalaman penggunaan yang ingin didekati. Sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata menjadi lebih mudah dipahami ketika ada contoh nyata.
Masalahnya muncul ketika jumlah referensi terus bertambah. Satu produk dipilih karena teksturnya, produk lain karena kandungannya, produk ketiga karena aromanya, sementara produk berikutnya dianggap menarik karena sedang ramai di market. Tanpa disadari, satu produk baru mulai dibebani oleh terlalu banyak karakter dari produk-produk yang sebenarnya memiliki konsep berbeda.
Tim maklon kemudian menghadapi pertanyaan yang lebih sulit daripada sekadar bagaimana membuat formula. Mereka harus mencari tahu karakter mana yang benar-benar penting bagi brand dan mana yang hanya muncul karena klien menyukai bagian tertentu dari sebuah referensi. Jika prioritas tersebut tidak ditemukan, proses pengembangan mudah berubah menjadi rangkaian percobaan tanpa arah yang jelas.
Referensi Seharusnya Memperjelas, Bukan Menggabungkan Semuanya
Bayangkan sebuah brand ingin mengembangkan pelembap wajah. Klien menyukai tekstur sangat ringan dari produk A, sensasi lembap produk B, bahan aktif pada produk C, aroma produk D, dan hasil akhir produk E. Masing-masing referensi terlihat menarik ketika dibicarakan secara terpisah.
Namun kelima produk tersebut belum tentu dibangun dengan logika formulasi yang sama. Tekstur ringan pada produk A mungkin berhubungan dengan komposisi yang berbeda dari produk B yang memberikan sensasi kelembapan lebih kuat. Ketika semua karakter diminta hadir secara bersamaan, tim Research and Development harus mencari keseimbangan baru yang belum tentu menghasilkan pengalaman seperti seluruh referensi tersebut.
Persoalannya menjadi lebih rumit ketika referensi terus berubah selama pengembangan. Setelah sampel pertama dibuat, klien menemukan produk lain dan meminta karakter barunya ikut dimasukkan. Sampel berikutnya kemudian dibandingkan dengan referensi yang berbeda lagi, sehingga standar keberhasilan produk ikut bergerak setiap kali evaluasi dilakukan.
Akibatnya, revisi dapat berlangsung berkali-kali tanpa ada satu versi yang benar-benar dianggap selesai. Bukan karena tim tidak mampu mengembangkan formula, melainkan karena tujuan yang harus dicapai terus berubah. Proses yang seharusnya semakin mengerucut setelah setiap sampel justru kembali melebar.
Referensi juga dapat membuat brand terlalu fokus pada apa yang sudah dilakukan kompetitor. Jika setiap keputusan selalu dimulai dengan keinginan mengambil bagian terbaik dari berbagai produk lain, identitas produk sendiri semakin sulit ditemukan. Hasilnya mungkin memiliki banyak karakter menarik, tetapi konsumen tidak memperoleh alasan yang jelas mengenai apa yang sebenarnya ingin ditawarkan.
Pilih Referensi Berdasarkan Tujuan yang Jelas
Solusinya bukan berhenti menggunakan referensi. Perusahaan maklon justru membutuhkan referensi ketika bahasa subjektif seperti ‘ringan’, ‘premium’, ‘segar’, atau ‘tidak lengket’ sulit diterjemahkan hanya melalui percakapan. Yang perlu diperbaiki adalah cara referensi tersebut digunakan dalam proses pengembangan.
Klien dapat memulai dengan menjelaskan alasan setiap referensi dipilih. Jika produk A digunakan sebagai acuan tekstur, maka bagian itulah yang menjadi fokus pembahasan, bukan seluruh karakter produk A. Jika produk B dipilih karena mekanisme kemasannya, formula dan klaim produk tersebut tidak otomatis menjadi bagian dari arah pengembangan.
Setelah itu, prioritas perlu ditentukan. Sebuah brand mungkin menginginkan tekstur ringan, kelembapan tinggi, harga terjangkau, bahan aktif tertentu, dan kemasan premium, tetapi tidak semua elemen memiliki tingkat kepentingan yang sama. Mengetahui dua atau tiga karakter yang tidak boleh dikorbankan akan membantu tim maklon mengambil keputusan ketika muncul kebutuhan untuk melakukan kompromi.
Brief kemudian menjadi tempat seluruh referensi tersebut diterjemahkan menjadi arah yang lebih terstruktur. Alih-alih meminta “produk seperti A ditambah B dan C”, klien dapat menjelaskan target konsumen, manfaat utama, pengalaman penggunaan, kisaran harga, serta karakter yang ingin dihindari. Referensi berubah fungsi dari sesuatu yang harus ditiru menjadi alat untuk memperjelas bahasa.
Pendekatan ini juga membuat evaluasi sampel jauh lebih objektif. Klien tidak perlu terus bertanya apakah sampel sudah terasa seperti produk tertentu, tetapi dapat menilai apakah teksturnya sudah sesuai, apakah tingkat kelembapannya tepat, dan apakah pengalaman penggunaannya memenuhi spesifikasi yang telah disepakati. Setiap revisi memiliki tujuan yang dapat dipahami oleh kedua pihak.
Bagi brand, kemampuan membatasi referensi juga merupakan bagian dari kemampuan mengambil keputusan. Tidak semua hal menarik yang ditemukan di market perlu dimasukkan ke dalam satu produk. Terkadang karakter yang kuat justru muncul karena sebuah produk berani memilih apa yang penting dan meninggalkan hal-hal yang tidak mendukung tujuan utamanya.
Perusahaan maklon dapat membantu menerjemahkan referensi menjadi formula, tetapi arah produk tetap membutuhkan ketegasan dari pemilik brand. Semakin banyak contoh yang dibawa tanpa prioritas, semakin besar ruang interpretasi yang harus diselesaikan selama pengembangan. Sebaliknya, beberapa referensi yang dipilih dengan alasan yang jelas dapat mempercepat terciptanya pemahaman bersama.
Referensi terbaik bukan referensi yang membuat produk baru memiliki sebanyak mungkin keunggulan dari kompetitor. Referensi terbaik adalah yang membantu brand dan tim maklon berbicara mengenai produk yang sama dengan pengertian yang sama. Ketika fungsi tersebut sudah terpenuhi, referensi tidak lagi menjadi kumpulan produk untuk ditiru, melainkan kompas yang membantu pengembangan tetap bergerak ke arah yang telah ditentukan. [][Adrian Damar/MYK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.