Apakah Brand Kosmetik Harus Selalu Memulai dari Produk yang Sedang Tren?

Apakah Brand Kosmetik Harus Selalu Memulai dari Produk yang Sedang Tren?

Myklonpedia > Apakah Brand Kosmetik Harus Selalu Memulai dari Produk yang Sedang Tren?

Apakah Brand Kosmetik Harus Selalu Memulai dari Produk yang Sedang Tren?

A
Written By Adrian Damar
Published On 18 August 2026
Apakah Brand Kosmetik Harus Selalu Memulai dari Produk yang Sedang Tren?
 Tren dapat membuka peluang penjualan dengan cepat. Namun bisnis kosmetik yang kuat tidak selalu dimulai dengan mengejar produk yang sedang ramai dibicarakan.

Ketika seseorang ingin membangun brand kosmetik, pertanyaan yang sering muncul adalah produk apa yang sedang ramai di market. Jika serum tertentu sedang populer, muncul keinginan membuat produk serupa. Ketika kategori sunscreen, body care, atau perawatan rambut mendapatkan perhatian besar, banyak pemain baru segera melihatnya sebagai peluang.

Logikanya memang mudah dipahami. Produk yang sedang tren telah memiliki perhatian konsumen sehingga brand tidak perlu menciptakan kebutuhan dari nol. Tantangannya, perhatian yang besar juga menarik banyak pemain untuk masuk pada waktu yang hampir bersamaan.

Akibatnya, ketika produk selesai dikembangkan dan siap diluncurkan, situasi market bisa saja sudah berbeda. Kategori yang sebelumnya terasa segar telah dipenuhi banyak produk serupa, sementara konsumen mulai memindahkan perhatian pada kebutuhan lain. Karena itu, tren sebaiknya menjadi salah satu sumber informasi, bukan satu-satunya alasan menentukan produk.

Lunaray Beauty Factory Tidak Hanya Melihat Apa yang Sedang Ramai
Pendekatan seperti ini juga relevan ketika melihat pengembangan produk di Lunaray Beauty Factory. Sebagai perusahaan yang bergerak dalam manufaktur kosmetik, kebutuhan klien yang datang tentu beragam. Ada klien yang membawa inspirasi dari produk yang sedang ramai, tetapi ada pula yang datang dengan persoalan konsumen yang sangat spesifik dan ingin menerjemahkannya menjadi produk.

Dalam proses pengembangan, tren dapat digunakan untuk membaca perubahan preferensi konsumen. Namun produk tetap perlu dilihat dari target pengguna, manfaat yang ingin diberikan, posisi harga, karakter formula, serta kemungkinan produk tersebut dikembangkan secara berkelanjutan. Produk yang ramai di media sosial belum tentu menjadi pilihan terbaik bagi setiap brand.

Misalnya, sebuah kategori sedang tumbuh sangat cepat tetapi telah memiliki puluhan pemain dengan pesan yang hampir sama. Memasuki kategori tersebut hanya karena sedang populer dapat membuat brand harus mengeluarkan energi besar untuk menjelaskan perbedaannya. Sebaliknya, kebutuhan yang terlihat lebih kecil tetapi belum dilayani dengan baik dapat memberikan ruang untuk membangun posisi yang lebih jelas.

Di sinilah perusahaan maklon dapat membantu klien melihat ide dari perspektif yang lebih luas. Pertanyaannya tidak berhenti pada apakah produk tersebut dapat dibuat, tetapi juga bagaimana konsepnya diterjemahkan menjadi spesifikasi yang realistis. Diskusi mengenai formula, pengalaman penggunaan, target biaya, dan kemungkinan pengembangan produk berikutnya membantu brand menilai apakah sebuah tren benar-benar sesuai dengan bisnis yang ingin dibangun.

Pendekatan tersebut juga membuat tren tidak harus selalu diikuti secara harfiah. Sebuah tren dapat memberikan petunjuk mengenai perubahan kebutuhan konsumen, kemudian diterjemahkan menjadi produk dengan pendekatan berbeda. Yang diambil bukan sekadar bentuk produknya, melainkan alasan mengapa konsumen mulai tertarik pada kategori tersebut.

Perusahaan Besar Pun Tidak Sekadar Mengejar Tren
Pendekatan perusahaan kosmetik besar dunia memperlihatkan pola yang menarik. L'Oréal, misalnya, memang menyatakan bahwa divisi produk konsumennya terus mengikuti perkembangan tren konsumen. Namun strategi grup tersebut juga dibangun melalui riset mengenai kelompok konsumen tertentu, kebutuhan lokal, ilmu pengetahuan, dan kebutuhan kecantikan yang belum terpenuhi.

Salah satu contohnya terlihat di Brasil. L'Oréal mengembangkan Garnier Vitamin C Toque Seco setelah melihat keluhan konsumen setempat terhadap pelembap yang terasa berat dan membuat kulit terlihat berminyak. Produk tersebut dikembangkan dengan tekstur ringan untuk menjawab persoalan lokal, kemudian berkembang dari produk yang sukses di Brasil menuju peluncuran yang lebih luas secara global.

Contoh tersebut menarik karena inovasinya tidak dimulai hanya dengan pertanyaan mengenai produk apa yang sedang populer. Perusahaan membaca masalah yang dialami konsumen, kemudian menggunakan kemampuan riset dan formulasi untuk memberikan jawaban. Ketika jawabannya relevan, produk justru dapat ikut membentuk perkembangan market.

L'Oréal juga menggunakan jaringan pusat riset dan evaluasi di berbagai wilayah untuk memahami keragaman kebutuhan kulit dan rambut. Pada 2025, perusahaan tersebut menyebut Gen Z, pria, dan konsumen berusia 60 tahun ke atas sebagai beberapa kelompok yang semakin diperhatikan dalam pengembangan inovasi. Artinya, pencarian peluang dilakukan melalui perubahan demografi dan kebutuhan konsumen, bukan hanya melalui kategori yang sedang viral.

Menariknya, pendekatan tersebut bukan berarti perusahaan besar mengabaikan tren. L'Oréal tetap meluncurkan inovasi pada kategori yang sedang tumbuh, termasuk perawatan rambut premium, serta menggunakan jutaan penilaian dan ulasan konsumen melalui sistem internalnya untuk membaca keinginan konsumen secara lebih cepat. Perbedaannya terletak pada cara tren digunakan sebagai informasi yang dipertemukan dengan riset, data konsumen, dan kemampuan inovasi.

Bagi brand baru yang bekerja dengan perusahaan maklon, prinsip yang sama dapat diterapkan dalam skala yang lebih sederhana. Mereka tentu tidak memiliki ribuan ilmuwan atau jaringan pusat riset global seperti perusahaan multinasional. Namun mereka tetap dapat bertanya siapa konsumennya, masalah apa yang belum terjawab dengan baik, produk apa yang terus mereka gunakan, dan mengapa solusi yang sudah tersedia masih dianggap kurang memuaskan.

Tren kemudian dapat berfungsi sebagai radar. Ia membantu menunjukkan ke mana perhatian konsumen sedang bergerak, tetapi tidak harus menentukan seluruh perjalanan bisnis. Jika tren sesuai dengan target konsumen dan kemampuan brand, peluang tersebut dapat dimanfaatkan. Jika tidak, memaksakan diri masuk justru dapat membuat produk kehilangan alasan yang kuat untuk hadir.

Dalam bisnis kosmetik, kesempatan tidak hanya tersedia bagi brand yang paling cepat meniru sesuatu yang sedang ramai. Kesempatan juga terbuka bagi mereka yang mampu melihat kebutuhan sebelum menjadi ramai, memahami persoalan lebih dalam, atau memberikan pengalaman yang lebih baik pada kategori yang sebenarnya sudah lama dikenal.

Karena itu, produk pertama tidak harus menjadi produk yang paling viral ketika brief diserahkan kepada perusahaan maklon. Produk pertama justru perlu menjadi produk yang paling masuk akal bagi konsumen yang ingin dilayani dan arah bisnis yang ingin dibangun. Tren bisa memberikan momentum, tetapi kebutuhan konsumen memberikan alasan bagi sebuah produk untuk tetap dibeli ketika keramaiannya sudah berlalu. [][Adrian Damar/MYK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.

Tags / Categories

Luna AI Assistant