Bagaimana Formula Dikembangkan Bersama Klien?
Ketika sebuah brand datang ke perusahaan maklon, mereka tidak selalu membawa formula yang sudah siap diproduksi. Sebagian bahkan baru memiliki gambaran mengenai produk yang ingin dibuat, konsumen yang ingin dituju, dan pengalaman seperti apa yang ingin diberikan. Dari informasi itulah proses pengembangan mulai berjalan.
Karena itu, pengembangan formula dalam proyek maklon bukan hubungan satu arah. Tim Research and Development tidak sekadar membuat sampel lalu meminta klien menerimanya. Klien juga tidak hanya memberikan daftar permintaan lalu menunggu produk selesai, karena formula justru dibentuk melalui serangkaian keputusan yang melibatkan kedua pihak.
Sebuah klien pernah datang dengan konsep produk pelembap untuk penggunaan harian. Mereka menginginkan tekstur ringan, cepat meresap, memberikan kelembapan yang cukup, dan tetap nyaman digunakan pada kondisi cuaca yang panas. Beberapa referensi produk juga dibawa untuk membantu tim memahami pengalaman penggunaan yang mereka bayangkan.
Berdasarkan brief tersebut, tim Research and Development mulai menyusun formula awal. Pemilihan bahan, komposisi, karakter tekstur, dan berbagai parameter lain disesuaikan dengan arah yang telah dibicarakan bersama. Setelah formula awal selesai, sampel kemudian diberikan kepada klien untuk dievaluasi.
Proses revisi seperti ini terkadang dianggap sebagai tanda bahwa formula pertama gagal. Padahal dalam pengembangan produk, sampel awal justru berfungsi untuk membuat sesuatu yang sebelumnya abstrak menjadi lebih mudah dinilai. Klien dapat membandingkan pengalaman nyata dengan gambaran yang selama ini hanya berada di dalam brief.
Namun tidak semua masukan klien dapat diterjemahkan menjadi perubahan formula secara langsung. Ada kondisi ketika satu permintaan dapat memengaruhi stabilitas, biaya, pilihan bahan, atau karakter lain yang sebelumnya sudah disetujui. Tim maklon perlu menjelaskan konsekuensi tersebut agar keputusan tidak hanya dibuat berdasarkan preferensi ketika mencoba sampel.
Setelah beberapa kali evaluasi, produk pelembap tadi akhirnya menemukan karakter yang dianggap paling sesuai. Teksturnya cukup ringan untuk penggunaan harian, sensasi lembapnya tetap terasa, dan pengalaman penggunaannya mendekati identitas yang ingin dibangun oleh brand. Hasil tersebut bukan formula yang muncul sejak percobaan pertama, tetapi hasil dari keputusan yang semakin tajam melalui setiap tahap evaluasi.
Formula yang baik bukan hanya formula yang berhasil dibuat di laboratorium. Formula tersebut juga harus dapat diproduksi secara konsisten dan tetap sesuai dengan tujuan bisnis yang dibawa klien sejak awal. Karena itulah percakapan, evaluasi sampel, dan keputusan bersama menjadi bagian yang sama pentingnya dengan pekerjaan teknis di balik meja formulasi.
Bagi pemilik brand, keterlibatan dalam proses tersebut bukan berarti harus memahami seluruh ilmu formulasi kosmetik. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menjelaskan tujuan produk, memberikan masukan yang spesifik, dan mengambil keputusan ketika beberapa pilihan memiliki konsekuensi yang berbeda. Dari kolaborasi itulah sebuah ide perlahan berubah menjadi formula yang benar-benar memiliki karakter milik brand tersebut. [][Rommy Rimbarawa/MYK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.