Brand Sibuk Menambah Produk, Tapi Produk Pertamanya Belum Kuat
Keinginan tersebut sangat wajar. Katalog yang lebih banyak terlihat memberikan lebih banyak kesempatan untuk menjual, menjangkau kebutuhan konsumen yang berbeda, dan membuat brand terlihat semakin serius. Tidak sedikit pemilik brand kemudian kembali menghubungi perusahaan maklon hanya beberapa bulan setelah produk pertamanya diluncurkan untuk segera mengembangkan produk berikutnya.
Memiliki lima produk memang menciptakan lima kemungkinan transaksi. Namun pada saat yang sama, brand juga memiliki lima produk yang perlu diperkenalkan, dijelaskan, dipasarkan, disediakan stoknya, dan dijaga perputarannya. Setiap penambahan produk membawa peluang sekaligus pekerjaan baru.
Persoalan tersebut menjadi semakin terasa ketika produk pertama sendiri belum menunjukkan pola penjualan yang stabil. Jika alasan konsumen membeli belum dipahami, menambahkan produk baru tidak otomatis menyelesaikan masalah. Brand justru berisiko memperbanyak produk sebelum mengetahui apa yang sebenarnya bekerja di market.
Produk Pertama Seharusnya Menjadi Tempat Brand Belajar
Produk pertama memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar menjadi awal katalog. Produk tersebut merupakan kesempatan bagi brand untuk mempelajari konsumennya secara nyata. Dari sanalah pemilik bisnis dapat melihat siapa yang benar-benar membeli, mengapa mereka membeli, bagaimana mereka menggunakan produk, dan apa yang membuat mereka ingin membeli kembali.
Informasi tersebut kemudian dapat menjadi dasar pengembangan produk berikutnya. Jika konsumen sebuah facial wash ternyata banyak meminta produk pendamping untuk menjaga kelembapan kulit, misalnya, kebutuhan itu dapat membuka arah pengembangan yang lebih logis. Produk kedua lahir dari perilaku konsumen yang sudah terlihat, bukan hanya dari keinginan memiliki katalog yang lebih lengkap.
Tentu tidak ada aturan bahwa sebuah brand harus bertahan dengan satu produk dalam waktu tertentu. Ada kondisi ketika beberapa produk memang perlu diluncurkan bersamaan karena konsep bisnisnya membutuhkan satu rangkaian yang saling melengkapi. Namun keputusan tersebut sebaiknya lahir dari strategi yang jelas, bukan karena kekhawatiran bahwa memiliki sedikit produk akan membuat brand terlihat kecil.
Karena itu, sebelum kembali ke perusahaan maklon untuk mengembangkan produk berikutnya, ada pertanyaan yang layak dijawab lebih dahulu. Apakah produk pertama sudah memiliki konsumen yang kembali membeli, apakah alasan pembeliannya sudah dipahami, dan apakah brand sudah mengetahui bagian mana dari produk tersebut yang paling dihargai konsumen? Jawaban terhadap pertanyaan itu memberikan dasar yang lebih sehat untuk menentukan ekspansi.
Menambah produk memang dapat menjadi bagian dari pertumbuhan bisnis kosmetik. Namun pertumbuhan tidak selalu berarti membuat lebih banyak produk dalam waktu sesingkat mungkin. Kadang, pekerjaan yang jauh lebih penting adalah membuat satu produk menjadi cukup kuat sehingga konsumen memiliki alasan untuk menunggu produk kedua. [][Adrian Damar/MYK]