Dua produk dapat terlihat hampir sama ketika berada di rak. Namun di balik kemiripan itu, proses pengembangannya bisa memiliki tingkat kesulitan yang sangat berbeda.
Dalam proyek maklon, kemiripan kategori sering menciptakan ekspektasi bahwa prosesnya juga akan sama. Jika sebuah perusahaan pernah memproduksi facial wash, misalnya, klien mungkin menganggap pengembangan facial wash berikutnya tinggal mengikuti proses yang sudah ada. Perbedaannya dianggap hanya terletak pada aroma, warna, bahan aktif, atau desain kemasan.
Kenyataannya tidak sesederhana itu. Dua produk dengan bentuk, fungsi, dan kategori yang sama dapat membawa spesifikasi teknis yang berbeda. Begitu spesifikasinya berubah, tim pengembangan harus kembali melihat formula, bahan baku, karakter fisik produk, kemasan, hingga proses yang diperlukan untuk menghasilkan kualitas yang konsisten.
Karena itu, kategori produk tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya ukuran untuk memperkirakan perjalanan sebuah proyek. Produk yang tampak sederhana bisa membutuhkan proses panjang, sementara produk lain dalam kategori yang sama justru relatif lebih mudah dikembangkan. Perbedaannya baru terlihat ketika kebutuhan setiap produk dibedah lebih jauh.
Sama-sama Serum, tetapi Persoalannya Bisa Berbeda
Bayangkan dua klien datang ke perusahaan maklon dan sama-sama ingin mengembangkan serum wajah. Klien pertama menginginkan formula dengan tekstur ringan, beberapa bahan yang sudah umum digunakan, serta karakter produk yang relatif sederhana. Klien kedua juga menginginkan serum ringan, tetapi meminta kombinasi bahan aktif tertentu, sensasi penggunaan yang sangat spesifik, dan kemasan dengan mekanisme khusus.
Dari sudut pandang konsumen, kedua produk tersebut nantinya mungkin terlihat tidak jauh berbeda. Keduanya berada dalam botol berukuran hampir sama, digunakan dengan cara yang sama, dan memiliki tekstur yang sekilas serupa. Namun bagi tim Research and Development, keduanya merupakan dua persoalan formulasi yang berbeda.
Pada proyek pertama, tantangan utama mungkin terletak pada menemukan keseimbangan tekstur dan sensasi penggunaan. Pada proyek kedua, tim juga harus memperhatikan kompatibilitas antar bahan, kondisi yang dibutuhkan untuk menjaga stabilitasnya, serta kesesuaian formula dengan kemasan yang telah dipilih. Tambahan satu kebutuhan dapat menciptakan rangkaian evaluasi yang tidak diperlukan pada proyek lainnya.
Perbedaan tersebut kemudian dapat berlanjut sampai ke tahap produksi. Formula dengan karakter tertentu mungkin membutuhkan urutan pencampuran yang berbeda, pengendalian suhu yang lebih ketat, atau waktu proses yang lebih panjang. Artinya, kemiripan produk ketika dilihat konsumen tidak selalu mencerminkan kemiripan cara produk tersebut dibuat.
Kompleksitas Ditentukan oleh Detail yang Tidak Terlihat
Hal serupa dapat terjadi pada kemasan. Dua produk sama-sama menggunakan botol pump, tetapi viskositas formulanya berbeda. Produk pertama dapat keluar dengan lancar, sedangkan produk kedua membutuhkan evaluasi tambahan karena mekanisme pump tidak mampu mengeluarkan isi dalam jumlah yang konsisten.
Pilihan bahan baku juga dapat mengubah perjalanan proyek. Sebuah formula mungkin menggunakan bahan yang sudah rutin digunakan sehingga proses pengadaan dan evaluasinya relatif lebih sederhana. Formula lain dapat membutuhkan bahan dengan karakter atau spesifikasi tertentu yang memerlukan perhatian tambahan sebelum digunakan dalam produksi.
Bahkan ekspektasi dari masing-masing brand dapat membuat dua proyek yang mirip berjalan dengan kecepatan berbeda. Klien pertama mungkin memberikan brief yang jelas dan cepat mengambil keputusan setelah menerima sampel. Klien kedua mungkin membutuhkan beberapa kali revisi karena tekstur, aroma, atau pengalaman penggunaan belum sesuai dengan gambaran yang dimiliki sejak awal.
Dalam situasi seperti ini, waktu pengembangan yang lebih panjang tidak otomatis menunjukkan bahwa proyek kedua dikerjakan lebih lambat. Bisa jadi jumlah persoalan yang harus diselesaikan memang lebih banyak. Menilai proses hanya berdasarkan kategori produk akan mengabaikan seluruh detail teknis yang sebenarnya menentukan tingkat kesulitannya.
Kasus seperti ini juga menjelaskan mengapa perusahaan maklon perlu memahami kebutuhan setiap proyek sebelum memberikan gambaran mengenai proses dan waktunya. Pengalaman membuat produk sejenis tentu membantu, tetapi tidak berarti seluruh tahapan dapat disalin begitu saja. Setiap perubahan spesifikasi perlu dilihat konsekuensinya terhadap formula dan kemampuan produksi.
Bagi pemilik brand, pemahaman tersebut penting agar ekspektasi terhadap proses menjadi lebih realistis. Pertanyaan yang tepat bukan hanya, “Bukankah sebelumnya sudah pernah membuat produk seperti ini?” Pertanyaan yang lebih berguna adalah, “Apa yang membuat spesifikasi produk saya berbeda dan bagaimana perbedaan tersebut memengaruhi prosesnya?”
Dua produk dapat terlihat hampir identik setelah selesai diproduksi, tetapi perjalanan menuju hasil tersebut mungkin sangat berbeda. Di industri maklon, kompleksitas sering berada pada detail yang tidak pernah dilihat konsumen. Justru kemampuan mengelola detail-detail itulah yang membuat produk yang tampak sederhana dapat diproduksi secara aman, konsisten, dan sesuai dengan ekspektasi brand. [][Rommy Rimbarawa/MYK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.