Published On
06 November 2026
Desain kemasan selesai dan ribuan label sudah dicetak. Persoalan baru muncul ketika nama merek ternyata berpotensi berbenturan dengan hak pihak lain.
Dalam pengembangan kosmetik melalui maklon, pemilik brand sering menganggap pemilihan nama sebagai pekerjaan kreatif. Nama yang menarik kemudian diterapkan pada logo, kemasan, dan materi promosi. Setelah desain disetujui, perusahaan mulai memesan bahan kemas.
Masalah muncul ketika pemeriksaan merek dilakukan setelah pengeluaran tersebut terjadi. Nama yang dipilih ternyata memiliki kemiripan dengan merek lain untuk barang sejenis. Akibatnya, perusahaan menghadapi risiko sengketa sekaligus kerugian dari kemasan yang sudah diproduksi.
Kesalahan ini dapat terjadi karena pemilik bisnis menyamakan ketersediaan nama dengan hak penggunaannya. Nama akun media sosial dan alamat situs yang belum digunakan orang lain dianggap cukup. Padahal, keduanya tidak membuktikan bahwa suatu merek aman digunakan secara hukum.
Nama yang Menarik Belum Tentu Aman Secara Hukum
Di Indonesia, perlindungan merek berkaitan dengan ketentuan pendaftaran dan hak atas merek. Pemeriksaan dapat dimulai melalui Pangkalan Data Kekayaan Intelektual milik Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Penelusuran perlu mempertimbangkan persamaan nama, tampilan, serta jenis barang atau jasa.
Pencarian nama yang identik saja belum cukup untuk menilai risiko. Merek dengan susunan huruf berbeda mungkin tetap memiliki persamaan pada pokoknya. Penilaian memerlukan pertimbangan mengenai bunyi, tampilan, dan unsur pembeda.
Bagi bisnis kosmetik, persoalan tersebut dapat berdampak pada banyak komponen. Logo mungkin sudah dicetak pada botol, dus, segel, dan materi promosi. Mengganti nama berarti meninjau kembali seluruh material yang menggunakan identitas tersebut.
Kerugian juga tidak selalu terbatas pada biaya cetak. Jadwal peluncuran dapat mundur karena desain harus diperbaiki dan kemasan baru perlu dipesan. Produk yang sudah dipersiapkan bersama maklon akhirnya menunggu penyelesaian persoalan identitas.
Pemeriksaan Merek Seharusnya Mendahului Produksi Kemasan
Langkah awal yang lebih aman adalah melakukan penelusuran merek sebelum desain kemasan difinalisasi. Pemilik brand perlu memeriksa merek terdaftar dan permohonan yang relevan. Jika ditemukan potensi konflik, konsultasi dengan profesional kekayaan intelektual dapat membantu menilai risikonya.
Perusahaan kemudian dapat mempersiapkan permohonan pendaftaran merek sesuai klasifikasi barang yang relevan. Pengajuan permohonan bukan jaminan bahwa merek akan disetujui. Karena itu, keputusan investasi kemasan perlu mempertimbangkan status serta risiko permohonannya.
Koordinasi dengan perusahaan maklon juga diperlukan sejak tahap persiapan. Nama merek dan informasi kemasan perlu dipastikan sebelum pemesanan material dalam jumlah besar. Perubahan setelah produksi kemasan dimulai berpotensi menambah biaya dan mengganggu jadwal.
Jika persoalan baru ditemukan setelah kemasan dicetak, perusahaan sebaiknya menghentikan penggunaan material yang berisiko sambil melakukan evaluasi. Pilihan tindak lanjut dapat berupa perubahan identitas atau penyelesaian hukum yang sesuai. Keputusan perlu mempertimbangkan risiko merek dan konsekuensi terhadap administrasi produk.
Pemilik brand juga harus membedakan pemeriksaan merek dari proses notifikasi kosmetik. Keduanya memiliki tujuan dan persyaratan berbeda. Pemenuhan satu proses tidak otomatis menyelesaikan kewajiban pada proses lainnya.
Nama merek bukan sekadar elemen desain yang dapat diputuskan belakangan. Identitas tersebut berkaitan dengan perlindungan hukum, biaya produksi, dan kelangsungan pemasaran. Memeriksanya sejak awal membantu mencegah pengeluaran yang sebenarnya dapat dihindari. [][Adrian Damar/MYK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.