Mengapa Brand Kosmetik Sulit Mengetahui Produk Mana yang Sebenarnya Menghasilkan Keuntungan?

Mengapa Brand Kosmetik Sulit Mengetahui Produk Mana yang Sebenarnya Menghasilkan Keuntungan?

Myklonpedia > Mengapa Brand Kosmetik Sulit Mengetahui Produk Mana yang Sebenarnya Menghasilkan Keuntungan?

Mengapa Brand Kosmetik Sulit Mengetahui Produk Mana yang Sebenarnya Menghasilkan Keuntungan?

A
Written By Adrian Damar
Published On 26 October 2026
Mengapa Brand Kosmetik Sulit Mengetahui Produk Mana yang Sebenarnya Menghasilkan Keuntungan?
Produk terlaris sering dianggap sebagai penyumbang keuntungan terbesar. Padahal, setelah seluruh biaya dihitung, produk dengan penjualan lebih rendah justru bisa menghasilkan laba lebih baik.

Banyak pemilik brand kosmetik mengevaluasi bisnis melalui laporan penjualan bulanan. Produk dengan omzet tertinggi biasanya mendapat perhatian terbesar karena dianggap paling berhasil. Angka penjualan kemudian menjadi dasar untuk menentukan promosi dan jumlah produksi berikutnya.

Persoalannya, omzet hanya menunjukkan nilai transaksi, bukan keuntungan yang benar-benar diperoleh. Setiap produk dapat memiliki biaya produksi, komisi penjualan, dan kebutuhan promosi berbeda. Tanpa pemisahan biaya, perusahaan sulit mengetahui kontribusi keuntungan masing-masing produk.

Kesalahan pembacaan ini dapat memengaruhi keputusan bisnis. Produk yang tampak menjanjikan terus dipromosikan, sementara produk lain kurang diperhatikan. Padahal, keduanya mungkin memiliki kemampuan menghasilkan keuntungan yang sangat berbeda.

Produk Terlaris Belum Tentu Memberikan Keuntungan Terbesar
Bayangkan sebuah brand menjual dua jenis serum melalui marketplace. Produk A terjual 1.000 unit dengan harga Rp75.000, sedangkan produk B terjual 600 unit dengan harga Rp90.000. Omzet produk A memang lebih besar daripada produk B.

Akan tetapi, biaya produksi produk A mencapai Rp35.000 per unit, ditambah biaya promosi dan transaksi Rp25.000. Produk B memiliki biaya produksi Rp40.000 dengan biaya penjualan Rp15.000 per unit. Dalam ilustrasi sederhana ini, kontribusi produk A hanya Rp15.000 per unit, sedangkan produk B mencapai Rp35.000.

Jika seluruh unit terjual dengan biaya tersebut, produk A menghasilkan kontribusi Rp15 juta dan produk B Rp21 juta. Angka ini belum memperhitungkan biaya operasional bersama, pajak, dan pengeluaran lain. Meski penjualannya lebih sedikit, produk B memberikan kontribusi lebih besar sebelum biaya-biaya tersebut.

Perbedaan semacam ini mudah terlewat ketika perusahaan hanya memantau omzet. Diskon, subsidi pengiriman, komisi affiliate, dan biaya iklan sering tercatat secara terpisah. Akibatnya, keuntungan setiap produk tampak lebih besar daripada kondisi sebenarnya.

Menghitung Keuntungan Produk Sebelum Mengambil Keputusan
Langkah pertama adalah memisahkan pendapatan dan biaya berdasarkan produk. Catat harga transaksi setelah diskon, biaya produksi, biaya pengemasan, serta biaya penjualan yang relevan. Pengeluaran yang digunakan bersama perlu dialokasikan menggunakan metode yang masuk akal dan konsisten.

Selanjutnya, perusahaan dapat menghitung kontribusi setiap produk terhadap biaya tetap dan laba. Perhitungan ini membantu membedakan produk yang menghasilkan omzet besar dari produk yang memberikan kontribusi tinggi. Hasilnya menjadi dasar untuk mengevaluasi harga dan strategi promosi.

Data tersebut juga berguna ketika merencanakan produksi ulang bersama perusahaan maklon. Produk dengan permintaan tinggi tetapi kontribusi rendah mungkin membutuhkan evaluasi biaya atau harga jual. Penyesuaian spesifikasi harus tetap mempertahankan keamanan dan mutu produk.

Meski demikian, produk dengan kontribusi kecil tidak selalu harus dihentikan. Beberapa produk berperan menarik pelanggan baru atau melengkapi rangkaian perawatan. Nilai strategis tersebut perlu diuji menggunakan data pembelian, bukan sekadar asumsi pemasaran.

Pemilik brand sebaiknya mengevaluasi keuntungan secara berkala berdasarkan kanal penjualan. Produk yang menguntungkan melalui penjualan langsung mungkin memberikan hasil berbeda di marketplace. Perbedaan biaya setiap kanal dapat mengubah keputusan harga maupun promosi.

Mengetahui produk paling laris tidak sama dengan mengetahui produk paling menguntungkan. Keputusan bisnis membutuhkan informasi mengenai pendapatan dan biaya yang benar-benar terkait dengan setiap produk. Dengan perhitungan tersebut, pertumbuhan penjualan dapat diarahkan untuk menghasilkan keuntungan yang lebih sehat. [][Adrian Damar/MYK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.

Tags / Categories

Luna AI Assistant