Mengapa Produk yang Tidak Viral Tetap Bisa Jadi Bisnis yang Sehat?
Di media sosial, keberhasilan produk mudah terlihat dari jumlah penonton, komentar, atau seberapa sering produk muncul dalam konten. Akibatnya, brand yang produknya tidak memperoleh perhatian sebesar kompetitor dapat merasa ada sesuatu yang salah. Padahal, popularitas hanya menunjukkan satu bagian dari perjalanan bisnis.
Produk yang terjual secara konsisten kepada kelompok konsumen tertentu dapat memiliki nilai bisnis yang lebih besar daripada produk yang sempat meledak tetapi cepat ditinggalkan. Apalagi jika konsumen kembali membeli setelah produknya habis. Dalam bisnis kosmetik, pola seperti ini memberikan dasar permintaan yang lebih mudah dibaca.
Bayangkan sebuah produk memperoleh jutaan penayangan setelah satu konten menjadi viral. Penjualan dapat melonjak sehingga brand harus segera menambah persediaan. Namun ketika perhatian publik berpindah, permintaan ikut turun karena sebagian konsumen membeli terutama akibat rasa penasaran.
Pembelian berulang juga memberikan informasi penting mengenai kualitas hubungan produk dengan konsumennya. Konsumen tidak lagi membeli karena promosi pertama, tetapi karena merasa produk tersebut layak digunakan kembali. Bagi brand, perilaku ini dapat menjadi sinyal yang lebih bernilai daripada angka perhatian semata.
Hal tersebut tidak berarti viralitas tidak berguna. Perhatian besar dapat mempercepat pengenalan brand dan mendatangkan konsumen baru dalam jumlah besar. Persoalannya muncul ketika viralitas diperlakukan sebagai model bisnis, bukan sebagai salah satu alat pemasaran.
Produk kosmetik yang bertahan biasanya memiliki fungsi yang jelas dalam rutinitas konsumennya. Sabun mandi, pembersih wajah, pelembap, sampo, atau produk perawatan lain tidak membutuhkan sensasi baru setiap bulan agar tetap digunakan. Selama memberikan pengalaman yang memuaskan, kebutuhan untuk membeli kembali akan terus muncul.
Bagi pemilik brand, kondisi ini membuka peluang yang sering kalah menarik dibandingkan mengejar tren. Mereka dapat bekerja bersama perusahaan maklon untuk mengembangkan produk berdasarkan kebutuhan yang relatif stabil, lalu membangun diferensiasi melalui formula, pengalaman penggunaan, target konsumen, atau posisi harga.
Tentu produk yang tidak viral tetap harus dikenal agar dapat ditemukan konsumen. Pemasaran, distribusi, komunikasi, dan kualitas produk tetap harus bekerja bersama. Bedanya, tujuan pemasaran bukan hanya menciptakan ledakan perhatian, melainkan membawa konsumen yang tepat menuju produk yang layak dibeli berulang kali.
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.