Istilah microbiome terdengar menarik untuk sebuah produk skincare. Namun dalam pengembangan produk, klaim seharusnya bukan menjadi titik berangkat. Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab lebih dahulu.
Ketika sebuah brand ingin mengembangkan produk berbasis microbiome, permintaan awalnya mungkin terdengar sederhana: ingin memakai prebiotic, probiotic, atau postbiotic, lalu membawa klaim yang berkaitan dengan keseimbangan mikrobioma kulit. Persoalannya, microbiome bukan satu bahan aktif yang cukup dimasukkan ke formula agar sebuah konsep produk otomatis terbentuk. Ia merupakan bagian dari ekosistem kulit yang juga berhubungan dengan barrier, pH, hidrasi, lipid, respons imun, kondisi lingkungan, dan biologi penggunanya.
Karena itu, tim pengembangan produk seharusnya tidak langsung bertanya bahan microbiome apa yang ingin digunakan. Pertanyaan pertama justru perlu mundur beberapa langkah: kondisi kulit apa yang ingin dituju dan pendekatan biologis apa yang relevan terhadap tujuan tersebut? Dari pertanyaan inilah keputusan mengenai bahan, formula, bentuk sediaan, pengujian, hingga klaim mulai mempunyai dasar.
Hal ini juga menjelaskan mengapa microbiome skincare tidak selalu harus berarti probiotic skincare. Produk dapat dirancang dengan mempertimbangkan ekosistem kulit melalui dukungan terhadap barrier, hidrasi, pH yang sesuai, sistem pembersihan yang lembut, maupun strategi formulasi lain tanpa harus menggunakan mikroorganisme hidup. Artinya, sebelum menentukan bahan yang terdengar menarik untuk pemasaran, tim maklon perlu memahami lebih dahulu sistem produk seperti apa yang sebenarnya ingin dibangun.
Mulai dari Masalah Biologis, Bukan Istilah yang Sedang Tren
Pilihan antara prebiotic, probiotic, dan postbiotic membawa konsekuensi pengembangan yang berbeda. Probiotic, misalnya, melibatkan mikroorganisme hidup sehingga muncul persoalan viabilitas, sistem pengawet, penyimpanan, stabilitas, kontrol kontaminasi, dan keamanan. Sementara itu, postbiotic tidak bergantung pada mikroorganisme hidup, tetapi tetap membutuhkan identitas bahan yang jelas, karakterisasi, konsentrasi, stabilitas, serta bukti yang relevan.
Begitu pula dengan prebiotic. Pertanyaannya bukan sekadar apakah suatu bahan disebut prebiotic oleh pemasok, tetapi substrat apa yang digunakan, mikroorganisme mana yang memanfaatkannya secara selektif, dan manfaat apa yang ingin dicapai. Bahan yang mempunyai cerita menarik mengenai microbiome belum tentu menjadi pilihan paling tepat untuk setiap formula.
Di tahap formulasi, persoalannya menjadi lebih luas lagi. Tim perlu mempertimbangkan pH, sistem pengawet, kekuatan pembersihan jika produknya berupa cleanser, dukungan terhadap barrier, stabilitas, kemasan, hingga interaksi antar bahan. Inilah sebabnya pengembangan produk berbasis microbiome lebih tepat dipandang sebagai perancangan sebuah sistem daripada sekadar memasukkan satu bahan yang sedang populer.
Sistem pengawet memberikan contoh yang menarik. Karena pengawet mempunyai aktivitas antimikroba, brand mungkin menganggap penggunaannya bertentangan dengan konsep microbiome-friendly. Padahal keamanan mikrobiologis produk tetap harus dijaga, sehingga persoalannya bukan memilih antara pengawet atau microbiome, melainkan merancang sistem pengawetan yang aman, efektif, dan sesuai dengan penggunaan produk.
Klaim Datang Setelah Formula dan Bukti Bertemu
Kesalahan berikutnya dapat terjadi ketika brand menganggap data dari suatu bahan sudah cukup untuk menjadi klaim produk. Misalnya, pemasok mempunyai penelitian yang menunjukkan aktivitas tertentu terhadap mikroorganisme pada sebuah bahan. Setelah bahan tersebut masuk ke produk akhir, kinerjanya dapat dipengaruhi oleh konsentrasi, pH, pengawet, bahan lain, proses produksi, stabilitas, kemasan, dan cara penggunaan.
Karena itu, bukti pada bahan tidak otomatis menjadi bukti pada produk akhir. Dokumen yang menjadi dasar pembahasan ini menawarkan alur yang jauh lebih hati-hati: mekanisme, bukti bahan, bukti formulasi, pengujian yang relevan, kemudian klaim yang bertanggung jawab. Urutan tersebut penting karena klaim seharusnya mengikuti tingkat bukti yang dimiliki, bukan sebaliknya.
Bahkan perubahan pada komposisi microbiome belum otomatis menunjukkan bahwa produk memberikan manfaat pada kulit. Jika sebuah pengujian menemukan perubahan jumlah relatif mikroorganisme tertentu, masih perlu ditanyakan apakah perubahan itu bermakna, bertahan, mempunyai konsekuensi fungsional, serta berkaitan dengan hasil pada kulit yang dapat diukur. Dengan kata lain, perubahan microbiome dan manfaat kulit merupakan dua hal yang perlu dibuktikan keterkaitannya.
Bagi brand yang bekerja bersama perusahaan maklon, urutan berpikir seperti ini justru membantu membuat proses pengembangan lebih terarah. Alih-alih datang dengan permintaan “buatkan produk microbiome-friendly”, brand dapat membawa tujuan produk, target pengguna, masalah kulit yang ingin dijawab, serta posisi produk yang ingin dibangun. Tim maklon kemudian dapat menerjemahkannya menjadi strategi bahan, formula, sistem produksi, dan kebutuhan pengujian yang realistis.
Produk berbasis microbiome memang membuka ruang inovasi yang luas, tetapi kompleksitas itulah yang membuatnya tidak cocok dikembangkan dengan pola “tentukan klaim lalu cari bahan”. Konsep biologis harus dapat diterjemahkan menjadi formula yang stabil, aman, dapat diproduksi secara konsisten, dan dapat diuji. Dokumen sumber menempatkan hubungan tersebut secara jelas: riset memberi pemahaman biologis, sedangkan formulasi menerjemahkannya menjadi produk yang dapat dibuat dan divalidasi.
Jadi, jika ingin membuat microbiome skincare, jangan mulai dari kalimat yang ingin dicetak pada kemasan. Mulailah dari pertanyaan tentang kulit yang ingin dijawab, kemudian tentukan strategi formulasi dan bukti yang dibutuhkan. Dengan urutan seperti itu, klaim bukan lagi janji yang dipaksakan kepada formula, melainkan kesimpulan yang lahir dari produk yang memang dirancang untuk mendukungnya. [][Rudi Tenggarawan/MYK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.