Published On
02 June 2026
Viral bisa membawa perhatian dalam jumlah besar. Namun perhatian yang datang terlalu cepat sering membuat brand lupa ke mana sebenarnya mereka ingin pergi.
Banyak pemilik brand bermimpi produknya menjadi viral. Ketika sebuah konten meledak, penjualan naik drastis, dan nama brand mulai banyak dibicarakan, situasinya terasa seperti keberhasilan besar yang selama ini ditunggu. Tak sedikit yang menganggap fase tersebut sebagai tanda bahwa strategi mereka sudah berjalan sempurna.
Masalahnya, viralitas dan pertumbuhan yang sehat bukanlah hal yang sama. Viral memberikan perhatian, tetapi perhatian tidak selalu datang dari orang yang benar-benar sesuai dengan target market sebuah brand. Ketika lonjakan perhatian ini tidak dikelola dengan baik, brand mulai kehilangan fokus terhadap identitas dan tujuan awalnya.
Karena itu, cukup banyak brand yang terlihat sangat kuat saat viral, tetapi justru kebingungan menentukan langkah setelah keramaian mulai mereda.
Viral Membawa Banyak Suara Sekaligus
Ketika sebuah produk viral, tiba-tiba semua orang memiliki pendapat. Ada yang meminta varian baru, ada yang mengusulkan perubahan kemasan, ada yang ingin harga lebih murah, dan ada pula yang berharap produk berkembang ke kategori yang sama sekali berbeda. Situasi seperti ini membuat pemilik brand menerima begitu banyak masukan dalam waktu singkat.
Masalahnya, tidak semua masukan berasal dari konsumen yang benar-benar menjadi target market utama. Banyak pendapat muncul hanya karena produk sedang ramai dibicarakan. Jika semua suara diikuti sekaligus, arah brand mulai berubah-ubah tanpa fondasi yang jelas.
Produk seperti serum atau facial wash sering mengalami kondisi ini. Awalnya produk dikenal karena satu keunggulan tertentu, tetapi setelah viral, komunikasinya mulai bergeser mengikuti berbagai permintaan yang belum tentu relevan dengan identitas awal brand.
Akibatnya, brand kehilangan fokus terhadap alasan utama mengapa konsumen pertama kali tertarik. Mereka terlalu sibuk merespons keramaian hingga lupa memperkuat posisi yang sebenarnya sudah berhasil mereka bangun.
Viral Sering Membuat Brand Salah Membaca Keberhasilan
Ada kesalahan lain yang cukup sering terjadi setelah viral. Banyak brand mulai menganggap bahwa semua keputusan yang mereka ambil selama fase viral pasti benar. Kepercayaan diri memang penting, tetapi rasa percaya diri yang tidak diimbangi evaluasi sering membuat brand kehilangan kemampuan membaca realita market secara objektif.
Lonjakan penjualan saat viral sering dianggap sebagai bukti bahwa semua produk berikutnya akan berhasil dengan cara yang sama. Karena itu, brand mulai memperluas kategori terlalu cepat, menambah terlalu banyak produk, atau mengubah strategi komunikasi secara drastis. Padahal belum tentu market menyukai semua perubahan tersebut.
Dalam banyak kasus, yang viral sebenarnya hanya satu produk, satu cerita, atau satu momentum tertentu. Namun brand kemudian memperlakukan viralitas itu seolah-olah seluruh identitas bisnisnya sudah diterima oleh market. Ketika perhatian mulai menurun, mereka baru menyadari bahwa loyalitas konsumen tidak tumbuh secepat jumlah views atau engagement.
Kondisi inilah yang membuat banyak brand terlihat kehilangan arah setelah fase viral berakhir. Mereka masih memiliki aktivitas yang tinggi, tetapi tidak lagi memiliki kompas yang jelas untuk menentukan prioritas berikutnya.
Viralitas seharusnya dipandang sebagai peluang untuk memperkuat fondasi, bukan alasan untuk mengubah seluruh arah bisnis. Semakin besar perhatian yang datang, semakin penting bagi brand untuk memahami siapa konsumennya, apa kekuatan utamanya, dan mengapa market memilih mereka sejak awal.
Brand yang bertahan lama biasanya bukan brand yang paling viral. Brand yang bertahan lama adalah brand yang mampu tetap mengenali dirinya sendiri ketika semua orang sedang memperhatikannya. [][Adrian Damar/MYK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.