Jurnal memang penting untuk memberi dasar ilmiah. Namun keberadaan penelitian pada bahan aktif tidak otomatis membuat produk akhir berhak membawa klaim yang sama.
Banyak pemilik brand merasa lebih percaya diri ketika menemukan bahan aktif yang sudah memiliki publikasi ilmiah. Ada studi yang menyebut aktivitas antioksidan, antibakteri, anti-inflammatory, atau manfaat tertentu pada kulit. Dari sana, muncul godaan untuk menjadikan temuan tersebut sebagai dasar klaim produk.
Masalahnya, jurnal hanya membuktikan apa yang benar-benar diuji di dalam penelitian tersebut. Jika penelitian dilakukan pada bahan murni, konsentrasi tertentu, model laboratorium, atau kondisi khusus, hasilnya tidak otomatis berpindah ke setiap produk yang memakai bahan serupa. Produk akhir membawa sistem formulasi yang jauh lebih kompleks.
Contoh Epigallocatechin gallate [EGCG] menunjukkan persoalan ini dengan jelas. EGCG adalah jenis senyawa antioksidan alami [katekin] yang paling utama dan paling banyak ditemukan di dalam teh hijau. Aktivitas antioksidannya memiliki dukungan mekanistik yang kuat, tetapi efektivitas pada produk akhir tetap dipengaruhi stabilitas, delivery, formulasi, dan kondisi penyimpanan. Aktivitas antibakteri terhadap galur tertentu pun tidak otomatis menjadikan produk sebagai solusi untuk jerawat.
Jurnal Bahan Aktif Tidak Sama dengan Bukti Produk
Ketika bahan masuk ke dalam formula, banyak variabel ikut berubah. Konsentrasi, pH, pengawet, bahan lain, stabilitas, proses produksi, kemasan, hingga cara penggunaan dapat memengaruhi bagaimana bahan tersebut bekerja. Karena itu, bukti pada bahan dan bukti pada produk akhir berada pada tingkat yang berbeda.
Hal serupa berlaku pada bahan seperti minyak ikan. Relevansi biologis EPA dan DHA terhadap kulit dapat menjadi dasar ilmiah yang menarik, tetapi itu belum cukup untuk membuktikan bahwa semua produk topikal yang mengandung minyak ikan memberikan manfaat yang sama. Bentuk bahan, konsentrasi, formula, stabilitas, dan jenis studi tetap menentukan interpretasinya.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. membawa sudut pandang penting dari sisi formulasi dan hilirisasi. Potensi biologis perlu bertahan melewati realitas formula sebelum bisa menjadi dasar klaim yang bertanggung jawab. Artinya, penelitian memberi alasan untuk mengembangkan produk, tetapi formulasi dan pengujian menentukan seberapa jauh manfaat itu benar-benar dapat dipertahankan.
Di sinilah brand perlu berhenti menganggap jurnal sebagai izin otomatis untuk menyalin manfaat bahan menjadi bahasa pemasaran. Jurnal seharusnya dibaca sebagai titik awal untuk memahami mekanisme dan potensi. Setelah itu, pertanyaannya bergeser pada apa yang benar-benar dapat dibuktikan pada produk yang akan dijual.
Klaim Harus Mengikuti Level Bukti yang Dimiliki
Kerangka yang lebih aman adalah bergerak bertahap dari mekanisme, bukti bahan, bukti formulasi, pengujian yang relevan, lalu menuju klaim. Urutan ini penting karena produk akhir tidak identik dengan bahan tunggal yang diteliti sebelumnya. Klaim seharusnya mengikuti kualitas bukti, bukan sebaliknya.
Sebelum menggunakan jurnal sebagai dasar komunikasi, brand perlu memeriksa apa yang sebenarnya diuji. Apakah studi dilakukan in vitro, pada manusia, pada bahan tunggal, atau sudah pada produk jadi? Konsentrasi, durasi penggunaan, parameter yang diukur, dan kondisi studi juga perlu diperhatikan.
Jika sebuah jurnal hanya menunjukkan mekanisme biologis, maka kesimpulannya juga harus berhenti pada level tersebut. Mekanisme tidak otomatis menjadi hasil klinis, dan hasil pada satu formula tidak otomatis berlaku pada formula lain. Prinsip ini penting agar komunikasi produk tetap sejalan dengan bukti yang benar-benar dimiliki.
Bagi brand, memiliki bahan aktif dengan jurnal tetap merupakan nilai yang kuat. Namun nilainya bukan karena jurnal tersebut bisa langsung diubah menjadi klaim. Nilainya terletak pada kemampuannya memberi arah ilmiah untuk formulasi, pengujian, dan pengembangan produk yang lebih bertanggung jawab.
Produk yang kuat bukan produk yang memiliki daftar jurnal paling panjang. Produk yang kuat adalah produk yang mampu menunjukkan hubungan yang jelas antara bahan, formula, bukti, dan klaim. Ketika keempatnya selaras, brand tidak hanya terdengar ilmiah, tetapi memang membangun produk dengan dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. [][Adrian Damar/MYK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.